Belajar untuk Merdeka, Merdeka Belajar

Oleh : Ilsa Nelwan*

Pengantar

Belajar merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang. Belajar tidak harus selalu di dalam kelas atau di sekolah, belajar dapat dilakukan dimanapun orang berada. Belajar tidak terbatas pada usia dan waktu. Belajarlah dan tuntutlah ilmu dari sejak dalam buaian sampai ke liang lahat.

Merdeka adalah ungkapan kebebasan. Dalam konteks negara, merdeka diungkapkan sebagai bentuk bebasnya suatu negara dari penjajahan atau kolonialisme, namun sebenarnya merdeka juga bisa dimaknakan kebebasan untuk berkiprah dari seseorang sesuai dengan bakat dan potensinya.

Where the mind is without fear and the head is held high; Where knowledge is free;
Where the world has not been broken up into fragments By narrow domestic walls;
Where words come out from the depth of truth;
Where tireless striving stretches its arms towards perfection; Where the clear stream of reason has not lost its way;
Into the dreary desert sand of dead habit;
Where the mind is led forward by thee;
Into ever-widening thought and action;
Into that heaven of freedom,
My Father, let my country awake

Rabinranath Tagore

Naskah ini hendak menghadirkan kembali semangat dan arti penting “belajar untuk merdeka” melalui perjuangan tokoh Ki Hajar Dewantara, dan merenungkan bagaimana situasi Pendidikan kita saat ini. Satu pengalaman khusus dalam program perbaikan gizi di Jawa Barat “Pendekatan Belajar dalam Pembinaan Posyandu”, disajikan sebagai contoh andil pendidikan dalam fungsi untuk perbaikan kesehatan masyarakat. 

Semangat Belajar Merdeka

Memperingati hari Pendidikan tanggal 2 Mei marilah kita memikirkan kembali Pendidikan di Indonesia masa lalu, di masa kini dan di hari esok. Tanggal 2 Mei adalah hari lahir Ki Hajar Dewantara, pada tahun 1899. Nama lahirnya adalah Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Semasa menjadi aktivis kepemudaaan, ia adalah seorang wartawan dan aktivis Boedi Oetomo. Dia pernah dibuang ke Negeri Belanda bersama dengan Eduard Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo, sebagai akibat dari tulisan provokatifnya yang terkenal, berjudul “Seandainya aku seorang Belanda” yaitu protes atas perintah pemerintah Hindia Belanda untuk pengumpulan dana merayakan kemerdekaan Belanda dari Perancis.

*Penulis, pengamat kesehatan masyarakat, pensiun dari World Health Organization Asia Tenggara sebagai Health systems regional advisor.

Dimuat dalam “De Express” yang dipimpin Douwes Dekker,tulisan ini yang menyebabkan Suwardi di buang ke Belanda.  Saat pembuangannya di Belanda itulah ia tertarik pada pendidikan yang membebaskan seperti yang dirintis oleh Montesorri dan Rabinranath Tagore. Ada suatu lokasi pendidikan yang diciptakan Tagore dan pada zamannya sangat terkenal “Shantiniketan”, dimana semua dianggap sama, yang pada zaman kolonial sangat tidak umum di negara negara terjajah.

Ki Hajar Dewantara termasuk aktivis pergerakan nasional yang memperkenalkan gagasan Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, beliau menjadi Menteri Pendidikan RI pertama. Atas jasanya di bidang Pendidikan beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1959.

belajar untuk merdeka
belajar untuk merdeka

Awal mula pendidikan nasional Indonesia, Taman siswa

Awal mula pendidikan nasional Indonesia, Taman siswa

Taman Siwa didirikan pada 3 Juli tahun 1922 di Jogjakarta, oleh Raden Mas Suwardi Suryaningrat yang kemudian mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Beliau dilahirkan tanggal 2 Mei yang kemudian dijadikan hari Pendidikan Nasional. Pendidikan yang memperkenalkan kesetaraan dan hak azasi ini dipengaruhi oleh gagasan merdeka belajar dari Montesorri dan Rabinranath Tagore.

Soerjoadiputro,adik dari Ki Hajar Dewantara di sekolah keguruan “Taman Siswa” di Bandung

Nyi Suryo Adi Putro, sedang mengajar anak-anak Taman Muda Bandung (1925 – 1929 ). 

Sekolah guru taman siswa di Bandung sekitar 1930 Pada zaman kolonial, guru termasuk “priyayi” yang digugu dan ditiru.

Taman siswa berdiri pada saat dunia mulai mengecam kolonialisme sebagai cara yang perlu ditinggalkan oleh “Orang Barat”, diantaranya dengan politik Etis. Para pejuang kemerdekaan mengembangkan pendidikan nasional dengan menekankan rasa kebangsaan, kesetaraan bangsa Indonesia dengan bangsa lain di dunia.

                Dalam perkembangan Pendidikan formal di seluruh dunia, sekolah tradisional dianggap terlalu kaku dan  hanya menjadi kereta api membawa penumpangnya masuk ke tengah masyarakat yang tidak setara. Ijazah menjadi karcis kereta api itu. Kritik yang tajam atas sekolah beredar sekitar tahun 1970an dilansir oleh Ivan Illich yang membebaskan masyarakat dari sekolah, yang dikenal gagasan “Deschooling Society”, dan mengusulkan masyarakat setara dan saling belajar dengan bertukar informasi. 

                Namun pendidikan formal tetaplah mendapat penghargaan lebih di pasar kerja, dan karenanya orang-orang yang butuh pekerjaan tetap mengejar ijazah. Di Indonesia tahun 1990-2000-an bermunculan sekolah kelas jauh dan kelas akhir pekan yang dasarnya untuk peningkatan karir. Masalah peningkatan akses pada pendidikan ini kemudian juga melatar belakangi lahirnya “Universitas Terbuka” pada tahun 1984. Kritik terhadap pendidikan formal ini adalah  kredentialisme, ijazah yang menjadi tujuan menjalani dan menyelenggarakan sekolah.

                 Kalau dibandingkan dengan India, setelah merdeka pada tahun 1945 Indonesia memiliki sangat sedikit kelas terdidik, lebih lebih yang mengalami pendidikan bertaraf internasional. Mungkin karena itulah berbeda dengan India, Indonesia kurang mampu mengembangkan industri hulu.  Industri hilir  yang tergantung pada produk import, lebih berkembang. Hal ini dirasakan pada saat krisis baik tahun 1998 maupun saat ini. Pada krisis moneter tahun 1998 maupun sekarang Indonesia tertolong oleh import bahan baku obat  dan obat dari India.

                 Orde Baru berhasil meningkatkan pendidikan dasar dengan program Inpres SD tahun 1980an. Sehingga pada tahun 1993 UNESCO menganugerahkan medali emas pada presiden Soeharto saat itu. Pada tahun 1994 telah dibangun 150.000 SD Inpres dengan satu juta guru.

                  Pemenang hadiah Nobel Ekonomi tahun 2019 yakni Abhijit Banerjee, Esther Duflo dan Michael Kremer telah mendapat Nobel Ekonomi dengan memperkenalkan metoda eksperimental untuk mengurangi kemiskinan global dengan fokus pada Pendidikan dan kesehatan anak. Mereka mennggunakan analisa hasil penelitian tentang Pendidikan SD Inpres. 

Contoh: "Pendekatan Belajar untuk Pembinaan Psoyandu"

Pendidikan juga digunakan sebagai pendekatan untuk perbaikan kesehatan masyarakat, pada tahun 1994-95 Jawa Barat memperkenalkan “pendekatan belajar untuk pembinaan Posyandu”. 

Posyandu tradisional dengan penggerakan sosial.

Gambaran Posyandu tradisional yang menerima kunjungan pejabat

Kader Posyandu dengan Ibu balita dalam sesi konseling, berhadapan seperti guru dan murid

Pendekatan belajar mengajak semua untuk belajar, meningkatkan kesehatan anak anak di tengah komunitas, bersama sama. Tenaga kesehatan, tokoh masyarakat dan orang tua balita bersama sama mengupayakan makanan sehat bagi balta di setiap komunitas dengan menekankan pentingnya komunikasi yang setara. Tenaga kesehatan memberdayakan kader kesehatan menjadi fasilitator belajar bagi komunitasnya, dampak yang diharapkan adalah perubahan perilaku Ibu dalam mengasuh Balitanya.
Dalam pertemuan bersama tim pembina Posyandu menggunakan “prinsip belajar orang dewasa” yang pada intinya setiap orang dewasa punya pengalaman masing masing dan tidak mudah dirubah tanpa komunikasi terbuka yang setara. Perbedaan yang mendasar adalah Posyandu dikembangkan sesuai situasi lokal. Oleh karena itu tidak ada “standar” kecuali acuan bersama tentang  anak sehat yang tumbuh dan berkembang sesuai umurnya. Tim provinsi Jawa Barat  disamping tenaga  kesehatan diperkuat oleh beberapa orang Psikolog yang melakukan pelatihan bagi tim Kabupaten/kota untuk pembinaan Posyandu di wilayahnya. 

Setelah reformasi, berbagai kegiatan yang asalnya mengandalkan penggerakan sosial mulai kehilangan momentum. Pencatatan pelaporan program kesehatan termasuk program imunisasi dan keluarga berencana yang awalnya mencapai 80 persen turun, sejalan dengan semangat desentralisasi. 

Pilihan pendekatan belajar berkembang, dan sampai sekarang masih ada Posyandu yang memilih menggunakan pendekatan belajar karena mobilisasi masa seperti dulu sudah tidak sesuai dengan perkembangan. Pendekatan belajar mendapat sambutan masyarakat karena bertujuan untuk mencari solusi masalah lokal.  

                                    

Posyandu dengan Pendekatan dan Kesetaraan

Ibu balita mendapat kesempatan untuk membahas kesehatan anaknya dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat. Di samping imunisasi dan gizi anak, tenaga kesehatan bisa juga memberikan masukan tentang tahap perkembangan anak dengan “Deteksi dini tumbuh kembang Balita”. Perkembangan anak meliputi aspek motorik kasar, motorik halus, verbal dan sosial.
Dengan pertemuan yang informal dan setara sesi diskusi interaktif bisa terjadi. Ibu ibu juga saling bertukar pengalaman tentang masalah yang dihadapi dalam pengasuhan balita. Kader kesehatan berfungsi sebagai fasilitator dalam pertemuan belajar tersebut. Pada akhir sesi dilakukan sesi “refleksi” yang merumuskan apa saja yang dibahas dan perlu ditindak lanjuti oleh setiap orang.

Pertemuan kader Posyandu, Ibu balita dan tenaga kesehatan dilaksanakan di luar sesi penimbangan yang berlangsung menyenangkan.

Ibu ibu dengan anak PAUD membahas masalah pengasuhan di tingkat desa

Bila ada solusi terhadap masalah yang dihadapinya, maka Ibu bersedia datang khusus untuk sesi bagaimana meningkatkan pengasuhan balita.

Kader dan petugas kesehatan juga bisa membahas masalah pencatatan dan pelaporan berbasis komputer dengan santai setelah sesi penimbangan berlangsung 

Perubahan besar bagi tim provinsi yang dirasakan adalah komunikasi menjadi lebih terbuka. Kebanyakan anggota tim merasakan bahwa kemampuan mendengar itu bisa dikembangkan. Selain itu sedikit demi sedikit tim Provinsi mulai mempraktekkan kesetaraan. Kalau datang untuk supervisi ke kabupaten tidak seperti biasanya, sikap  terhadap orang kabupaten/kota lebih mencerminkan kesetaraan. Walaupun tidak mudah untuk menerapkan konsep kesetaraan sepenuhnya, namun pengalaman ini menunjukkan bahwa dengan pemahaman dan pelatihan bisa terjadi perubahan sikap. 

Pendidikan di tengah masyarakat 

Pada tahun 2011 data Pendidikan mengungkapkan 92 persen penduduk usia sekolah dasar 77 persen penduduk usia sekolah menengah dan 32 persen  sudah masuk pendidikan formal. Namun kualitas pendidikan masih perlu ditingkatkan, misalnya analisa Bank Dunia menunjukkan bahwa 55 persen lulusan SD di Indonesia  buta huruf fungsional, jauh lebih tinggi dibandingkan 14 persen di Vietnam dan 20 persen di negara negara anggota OECD. Demikian pula pencapaian penddikan tinggi, orang Indonesia  di atas 25 tahun yang menyelesaikan S1 pada 2016 hanya 9 persen paling rendah diantara negara negara di ASEAN. Mungkin karena kurangnya insentif untuk menyelesaikan Pendidikan tinggi, karena lulusan Pendidikan tinggi yang menganggur paling tinggi diantara negara berkembang. Dari sisi positif rata rata lama sekolah telah berlipat dua sejak 1980an menjadi delapan tahun pada 2016, perbandingan guru murid telah menurun  dari 20 terhadap satu  (2014) menjadi 16 terhadap satu (2017). 

Dalam test Progamme for international student assessment (PISA) yang dijadikan acuan kualitas pendidikan kondisi Indonesia pada laporan tahun 2019  adalah  membaca di peringkat 72 dari 77 negara, matematika  di peringkat 72 dari 78 negara dan sains ada di peringkat 70 dari 78 negara . 

Catatan Pendidikan lain adalah gerakan “Indonesia mengajar” yang dipopulerkan oleh Anis Baswedan dan menimbulkan ketertarikan banyak anak muda untuk ikut aktif di bidang Pendidikan. Menteri keuangan Sri Mulyani pernah ikut sesi mengajar di satu SD Jakarta. Diilhami oleh Indonesia mengajar kementerian kesehatan pernah melaksanakan program “Pencerah Nusantara” yang cukup berhasil menginspirasi kaum muda. 

Beban administratif bagi pengelola Pendidikan formal sangat tinggi. Bukan hanya akreditasi sekolah, akreditasi guru tetapi juga ujian nasional yang bagi banyak sekolah merupakan pekerjaan besar.  

Setelah terpilih untuk kedua kalinya Presiden Indonesia Joko Widodo membuat kejutan dengan mengangkat Direktur Gojek Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan. 

Merdeka dari ujian nasional, meningkatkan Pendidikan pada praktik baik internasional

Kehadirannya sebagai Menteri yang “terlalu muda, kurang berpengalaman” menuai komentar miring. Namun banyak orang di masyarakat yang berharap banyak pada “Mas Menteri “ ini. Nadiem cukup berani untuk menghapuskan ujian nasional yang membebani sekolah dan mengarahkan pendidikan pada praktik baik internasional. Namun selalu diingatkan “yang punya sekolah itu bukan mendikbud, tetapi pemerintah daerah dan kementerian agama” .
Komputer dan teknologi informasi termasuk mengakibatkan peningkatan akses penduduk terhadap informasi meningkat pesat. Pengguna internet di Indonesia pada tahun 2018 telah mencapai 171,17 juta jiwa atau setara dengan 64,8 persen dari total penduduk Indonesia. Masalah yang dihadapi adalah berkomunikasi dengan gadget dengan budaya komunikasi lisan. Pada budaya komunikasi tertulis, untuk meneruskan pesan, sumber komunikasi harus jelas, berdasar fakta. Sedangkan pada komunikasi lisan dasarnya adalah opini atau pendapat subyektif. Masyarakat yang bisa membaca sms atau pesan whatsapp tetapi hanya menggunakan penilaian subyektif, akhirnya memiih pesan berdasarkan perasaan suka atau tidak suka pada ungkapan pesan tersebut. Akibatnya masyarakat yang tidak siap memilih informasi, sangat mudah terjebak “Hoaks”. Akses informasi tersebut malah berakibat negatif, hal ini bisa dirasakan pada Pemilihan umum tahun 2019.  

Pemerintah sebenarnya sudah mengantisipasi kebutuhan masyarakat untuk akses internet. Telah digaungkan “Palapa ring” yang akan membuka akses internet sampai ke pedalaman. Ternyata belum ada provider yang siap untuk memanfaatkan peluang ini. Sehingga cita cita untuk menghubungkan Nusantara secara virtual , “tol langit” masih belum terwujud. 

Bagaimana hari esok Pendidikan untuk lapangan kerja? 

Laporan Bank dunia tentang pembangunan dunia tahun 2019 mengungkapkan bahwa dunia perburuhan  hari esok berubah. Survey Eurobarometer  mengungkapkan bahwa 75 persen dari warga negara uni Eropa yang menjadi kekuatan gaya hidup dunia, percaya bahwa tempat kerja mendapat manfaat dari teknologi. Dua pertiganya  menyatakan bahwa teknologi akan bermanfaat  bagi masyarakat dan lebih jauh  meningkatkan kualitas hidupnya. 

Model usaha baru – perusahaan dengan platform digital berubah dari perusahaan start up lokal ke perusahaan raksasa kelas global seringkali dengan jumlah pegawai dan asset yang terlihat sedikit , seperti gambar berikut : 

Kemajuan teknologi mempercepat pertumbuhan perusahaan

Organisasi industri baru ini menimbulkan banyak pertanyaan baik di wilayah, perorangan, persaingan dan perpajakan. Kemampuan pemerintah untuk meningkatkan pendapatan dihalangi oleh sifat asset produksi yang virtual.
Berkembangnya platform pasar memungkinkan efek teknologi untuk meraih lebih banyak orang, lebih cepat dari sebelumnya. Individu dan perusahaan hanya perlu koneksi broadband untu berniaga barang dan jasa di platform online. Sekarang kita rasakan manfaat dan pengaruh Gojek, Go food, Tokopedia, Bukalapak dan sebagainya. Mereka sudah hadir di tengah masyarakat, membawa peluang ekonomi kepada berjuta juta orang yang tidak hidup di dalam ekosistem industri, atau di daerah industri. Perubahan tuntutan keterampilan mencapai orang yang sama. Otomasi meningkatkan keterampilan terbaik dari kemampuan kognitif di negara maju maupun berkembang. 

Meningkatnya peran teknologi dalam kehidupan dan usaha berarti semua jenis pekerjaan termasuk dengan keterampilan rendah membutuhkan keterampilan kognitif yang lebih tinggi. Peran modal SDM juga meningkat karena meningkatnya tuntutan keterampilan perilaku sosial. Pekerjaan yang mengandalkan interaksi sosial tidak bisa segera digantikan oleh mesin. Namun untuk berhasil dalam pekerjaan keterampilan perilaku sosial – didapatkan dalam usia dini dan dibentuk sepanjang hidup – harus kuat. Modal SDM jadi penting karena sekarang kemampuan menyesuaikan diri menjadi lebih penting.  

Ada jalan keluar, misalnya untuk mempersiapkan perubahan sifat pekerjaan, negara negara perlu meningkatkan investasi dalam tumbuh kembang usia dini. Ini merupakan cara yang paling efektif untuk membangun keterampilan masa depan tenaga kerja yang berkualitas. Negara juga perlu mendukung modal SDM dengan memastikan bahwa sekolah bisa menjadi tempat belajar efektif. Penyesuaian penting dalam keterampilan untuk memenuhi tuntutan dari perubahan sifat pekerjaan juga bisa dilakukan diluar wajib belajar di sekolah dan pekerjaan formal. Misalnya negara bisa menggunakan Pendidikan tinggi dan Pendidikan orang dewasa dengan lebih efektif.  

Salah satu sebab pemerintah tidak melakukan investasi SDM adalah karena tidak adanya insentif politik. Misalnya terbatasnya data yang terbuka untuk umum tentang apakah sistem kesehatan dan pendidikan menghasilkan SDM yang berkualitas. Keterbatasan ini menghalangi solusi yang efektif, upaya perbaikan dan kemampuan masyarakat mempertanyakan akuntabilitas pemerintah. Proyek modal SDM yang dilaporkan dalam publikasi ini adalah upaya untuk mengatasi kekurangan insentif politik serta memberikan peluang untuk investmen SDM. 

Untuk memastikan desain kebijakan dan penerapannya, diperlukan informasi agar bisa mengukur modal SDM yang dibutuhkan walaupun misalnya ada kesediaan sepenuhnya untuk melakukan investmen di modal SDM. Misalnya, di banyak sistem pendidikan tahun bersekolah hanya menghasilkan sebagian saja dari kemungkinan belajar sbb: 

Berbagai variasi belajar di negara berkembang.

Sumber: WDR 2019 team. based on kim (*2018); Filmer et al. (2018).

Perbedaan dalam belajar dramatis. Rata rata nilai test berkisar dari 600 di negara dengan kinerja belajar terbaik dan 300 di negara dengan kinerja belajar terburuk. Untuk memberi gambaran, nilai rata rata 400 adalah standar minimum kecakapan yang ditetapkan oleh Programme for International Student Assessment (PISA), program testing internasional terbesar. Kurang dari setengah siswa di negara berkembang bisa mencapai standar ini, dibandingkan dengan 86 persen siswa di negara maju. Di Singapore 98 persen siswa mencapai standar ini sebagai kecakapan dasar di SLTA; di Afrika selatan hanya 26 persen siswa yang memenuhi standar ini. Dengan demikian hampir semua siswa SLTA di Singapore siap untuk pendidikan pasca SLTA dan dunia kerja, sedangkan anak anak muda di Afrika selatan tidak siap.

Bank dunia menciptakan suatu indeks “Indeks modal SDM” 

Indeks ini diukur dengan jumlah modal SDM yang dibutuhkan sehingga seorang bayi yang dilahirkan tahun 2018 diperkirakan dapat mencapai SLTP dengan memperhitungkan risiko sakit atau berpendidikan kurang yang terjadi di negara dimana bayi tersebut dilahirkan pada tahun yang sama. Dengan kata lain indeks ini mengukur produktivitas dari pekerja generasi mendatang relatif pada suatu standar dengan pendidikan dan kesehatan optimal. Indeks ini dihitung  selain  melalui indikator belajar juga dengan kesehatan yang diwakili oleh komponen anak yang tidak stunting. Setelah melalui perhitungan, negara negara dalam laporan ini dibuat ranking tentang modal SDM hari depan. Indonesia ada di ranking 87 diantara 157 negara. Nomor 1 diduduki Singapore, nomor 157 Chad, China 46 dan India nomor 115. 

Jelaslah disamping investasi dan perhatian pada Pendidikan, perlu perhatian pada kesehatan utamanya pada Ibu hamil dan anak bawah dua tahun (menentukan 1000 hari pertama  yang akan menentukan tumbuh kembang optimal dan anak anak yg tidak mengalami stunting). 

Ternyata disamping pengetahuan, keterampilan serta keterampilan komputer dan teknologi informasi , kemampuan adaptasi dan sosial juga penting, seperti contoh di atas iklan lowongan kerja di hotel yang sama di Shanghai .

 
Bagaimana tentang Pendidikan hari esok?
Perkembangan Pendidikan menggunakan teknologi informasi berkembang sangat cepat untuk kaum muda Massive Open Online Course (MOOC) sangat menarik karena tidak ada kurikulum standar, tidak ada textbook dan tidak ada alokasi jumlah yang belajar. Para pelajar belajar dari instruktur, saling belajar satu sama lain dan bertukar informasi melalui berbagai media. MOOC mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari website tentang suatu topik kemudian mencari makna dari kelompok informasi itu dengan mengorganisasikannya. Para pelajar menggunakan berbagai platform untuk berkomunikasi satu sama lain sambil mereka belajar.
MOOC yang pertama berlangsung tahun 2008 pada 25 orang Mahasiswa di Universitas Manitoba dan 2300 pelajar online yang tidak berkaitan dengan universitas, tanpa bayar. Judul kursus ini adalah “Connectivism and connective knowledge” dan bertujuan membantu pelajar bahwa belajar bisa berlangsung non linear dan saling terhubung, yang merupakan falsafah MOOC sampai sekarang.

Untuk Indonesia tantangannya adalah disamping soal konektivitas internet juga kurangnya rasa ingin tahu, mental yang sangat pragmatis kalau tidak bisa dikatakan mental kuli, setiap langkah harus ada upahnya. Namun disisi lain kita jadi faham tuntutan Nadiem Makarim bahwa semua orang harus bisa berbahasa Inggris, harus mengerti statistik dan Psikologi dasar. Jangan risau dengan lulus ujian atau ranking. Karena hasil pendidikan akan dinilai dari kreativitas, kinerja dan bukan kredential.
Tentu peluang ini sangat menarik, bagaimana kita bisa menciptakan kelas menengah yang terpelajar dengan cepat.

 

Penutup 

Kalau kita mencari hikmah yang bisa dipetik dari pandemi COVID19 ini, salah satunya adalah mengembangkan komunikasi dan menjaga kedekatan sosial sementara melaksanakan isolasi diri dan tinggal dirumah saja untuk memutus rantai penularan. Komunikasi dilaksanakan  secara digital  “melalui  layar kaca”: whats app calls, video, webinar.  Teknologi informasi menjadi satu satunya cara , selain telepon, karena secara fisik kita berada di rumah.  

Kita bisa memilah dan menilai kembali apa yang selama ini kita lakukan, pertemuan apa yang memang perlu dilakukan, dan apa yang sebenarnya lebih efektif dilakukan secara digital. 

Setelah pandemi berlalu kita bisa memilih untuk kembali ke cara cara lama, atau memilih untuk menerapkan cara baru,  dengan kebebasan  dan kesetaraan sebagai hasil  belajar untuk merdeka. 

                                                                                           —– 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments