Hari Perempuan Internasional /International Women’s Day

Oleh : Ilsa Nelwan

International Women’s Day

Hari perempuan internasional di seluruh dunia yang diperingati setiap tanggal 8 Maret, merupakan selebrasi pencapaian perempuan di berbagai bidang sosial, ekonomi, budaya maupun politik namun sekaligus juga menunjukkan masalah yang dihadapi sehari hari dan dalam lingkup professional. Hari ini juga bisa dilihat sebagai seruan untuk percepatan kesetaraan gender. Tahun ini international women’s day menekankan tantangan yang muncul akibat pandemi COVID‐19.

Sejarah IWD bisa dilihat pada tahun1909 tanggal 28 Februari Partai Sosialis AS menyatakan hari ini untuk memperingati pemogokan buruh garmen di New York. Namun peringatan pertama IWD dilaksanakan tahun 1911, dimana perempuan dari berbagai negara Eropa berpartisipasi dalam demonstrasi. Lebih dari satu juta orang  turun ke jalan menuntut hak untuk memilih dan hak untuk bekerja dalam jabatan publk. Perempuan juga memprotes diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dan menuntut persamaan pembayaran. Pada awalnya peringatan ini dilaksanakan utamanya di negara negara komunis dan sosialis, baru pada 1967 setelah PBB mengakui dan mulai memperingatinya sebagai hari perempuan internasional menjadi IWD seperti yang kini kita kenal.

Stagnasi partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia

Menjadi tanda tanya mengapa partisipasi angkatan kerja. perempuan dalam 30 tahun terakhir di Indonesia tetap pada 50 persen? Walaupun pertumbuhan ekonomi maju pesat dan tingkat pendidikan dan kesehatan juga sudah jauh lebih baik.  Sedangkan di benyak negara lain partisipasi angkatan kerja perempuan meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, dan perkembangan tingkat pendidikan. Contohnya 62 persen perempuan berusia kerja di Australia memiliki pekerjaan. Negara negara berkembang seperti Tiongkok dan Thailand misalnya  juga memiliki  partisipasi angkatan kerja perempuan diatas 60 persen.  Di banyak negara, partisipasi perempuan di dunia kerja meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan level pendidikan. 

Beberapa faktor yang diduga menyebabkan hal ini adalah urbanisasi yang mengalihkan pekerjaan dari sektor pertanian ke manufaktur, keluarga, pekerjaan informal dan perbedaan upah. Sebagian besar pekerja perempuan ada di sektor pertanian, karena itu dengan berubahnya ke sektor jasa dan manufaktur perempuan kehilangan peluang kerja. Di negara lain perempuan bekerja setelah menyelesaikan pendidikan. Di Indonesia perempuan setelah menyelesaikan pendidikan ingin berkeluarga, partisipasi kerja meningkat jadi 70% setelah 45 tahun, yang sudah terlalu tua untuk bisa bekerja secara optimal. 

 

Sektor pekerjaan perempuan Indonesia

Mayoritas perempuan bekerja di sektor informal yang tidak diatur. Mereka dibayar setelah menyelesaikan pekerjaannya. Di Indonesia perempuan meninggalkan sektor formal untuk samasekali tidak bekerja. Disamping itu ada hal penting yang belum dikenal secara umum yaitu perbedaan upah. 

Di Indonesia perempuan dengan pekerjaan pendapatan tinggi berpendapatan 13% lebih rendah daripada laki‐laki di posisi yang sejenis. Kesenjangan upah ini melebar di pekerjaan‐pekerjaan berupah rendah yakni perempuan rata‐rata mendapat upah 63 persen lebih rendah daripada kolega laki‐laki mereka. 

Apa yang dapat Indonesia lakukan?

Meningkatkan proporsi perempuan yang bekerja di Indonesia sebanyak 10% berpotensi meningkatkan pertumbuhan PDB Indonesia sekitar satu persen. Meski terkesan tak banyak, ini merupakan peningkatan PDB sebesar US$123 miliar, atau US$432 per kapita, dan cukup signifikan bagi negara berkembang yang berupaya pindah kelas dari negara berpendapatan menengah rendah   menjadi menengah tinggi. Memberikan kesempatan kerja yang lebih besar bagi perempuan sejalan dengan kepentingan Indonesia untuk mengembangkan ekonominya. Dua kebijakan kunci yang dapat dilakukan Indonesia agar dunia kerja lebih terbuka bagi perempuan. Pertama, kebijakan yang mendukung pembagian tanggung jawab membesarkan anak, seperti cuti bagi orang tua. Kedua adalah pekerjaan yang fleksibel seperti pekerjaan paruh waktu. 

Hukum ketenaga kerjaan saat ini

Di bidang ketenaga kerjaan meningkatkan fleksibilitas hukum mungkin salah satu cara, pekerja paruh waktu bisa menjadi pekerja penuh waktu dan sebaliknya pekerja penuh waktu bisa menjadi pekerja paruh waktu bisa membantu perempuan dalam membesarkan anak sekaligus berpartisipasi di dalam dunia kerja. Perusahaan‐perusahaan juga dapat menyediakan layanan penitipan anak di tempat kerja.

Bagaimana hal tersebut dilihat dari kesenjangan gender?

Budaya patriarki yang masih kental terasa di Indonesia mengakibatkan penghargaan masyarakat pada perempuan adalah perkawinan. Pada saat wabah COVID‐19 malah perkawinan anak meningkat, karena keluarga ingin mengurangi beban kesulitan ekonomi dengan melepaskan anak perempuannya. Setelah menikah perempuan diharapkan menjadi penanggung jawab rumah tangga dan pengasuhan anak. Tentu ada keterbatasan anak yang diasuh oleh ibu yang memiliki  tingkat pendidikan rendah, oleh karena itu lingkaran kemiskinan terus menimpa perempuan dan bangsa Indonesia. Salahnya di keluarga keluarga yang berpendidikan cukup tinggi pun masih terjadi ketidak setaraan itu. Ibu bekerja pulang ke rumah ada “shift kedua” mengurus keluarga, membantu anak belajar, mungkin hal ini juga yang menyebabkan perempuan yang keluar dari sektor formal, tidak bekerja paruh waktu tetapi sama sekali tidak bekerja ﴾yang menghasilkan upah﴿.

Marilah kita rayakan keberhasilan yang telah dicapai oleh perempuan Indonesia.

Ditengah wabah COVID‐19 Indonesia telah bisa mendahului negara negara tetangga untuk melaksanakan vaksinasi. Gender merupakan buku yang terbuka untuk kita isi tulisan dengan apa yang kita lakukan agar membuat akhir cerita yang lebih baik. Kita memilih untuk menantang dan menyerukan bias dan ketidak setaraan gender. Dari tantangan tersebut muncul perubahan, itulah makna “Choose to challenge”.

 
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments