Kekerasan Dalam Pacaran, bagaimana mencegah dan mengatasinya
Ketika korban KDP peserta lomba menulis mengikuti Talkshow Yayasan JaRI
Oleh: Ilsa Nelwan*

Dalam peringatan hari Kartini dan menyongsong hari kemerdekaan RI di bulan Agustus
2022, Yayasan JaRI menyelenggarakan rangkaian kegiatan kampanye “Kesetaraan gender,
mendukung remaja sehat”. Kegiatan ini diakhiri talkshow “berani bantu, berani bicara”
tentang kekerasan dalam pacaran pada tanggal 27 agustus 2022.

Lomba menulis “Pengalaman Kekerasan Dalam Pacaran”
Lomba menulis tahun ini diharapkan memberikan ruang untuk berbagi pengalaman
terkait Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) yang sedang atau pernah dialaminya. Dari 458
orang naskah lomba, hanya 155 (33.8 persen) naskah yang lolos untuk mendapat penilaian
Juri. Banyak diantara peserta lomba hanya ingin menyampaikan keluhan, kesedihan yang
dirasakannya. Diantara peserta lomba 16 persen adalah penyintas kekerasan, hampir 80
persen berumur 18-28, hampir 67 persen peserta berasal dari Jawa-Bali.

Dalam salah satu naskah lomba pengalaman KDP terbaik, ada yang membahas bahwa
KDP juga terjadi di pedalaman. Seorang remaja diajak oleh pacarnya, mengalami kekerasan
seksual dari beberapa remaja lain setelah mereka minum minum, lalu ditinggalkan disungai
dalam perahu. Korban KDP akhirnya menanggung sendiri penderitaannya, nama baiknya
dan nama baik keluarga rusak. Ada juga perempuan remaja hamil akibat KDP dan tidak
bisa meneruskan pendidikan, diasingkan ke kota lain. Karena itu kita perlu memperhatikan
dan mendukung remaja yang mungkin mengalami KDP.

Ada koban KDP yang menemukan bahwa ia selalu butuh validasi. Dalam naskah
lomba menulis diuraikan penemuan masalahnya setelah dia terkecoh oleh laki laki yang
berpenampilan baik, namun ternyata bukan orang baik. Dia menyatakan pentingnya
mengenal diri, menerima diri sebelum bisa mencintai orang lain.

Dari naskah terbaik lomba menulis juga terungkap bahwa banyak remaja yang
memiliki kecemasan, ketakutan dikucilkan oleh masyarakat. Bagi para remaja yang sangat
kuatir akan nama baik, mungkin saran mengenal dan menerima diri bisa menyeimbangkan
perasaannya. Kalau seorang remaja mengenal dan menerima dirinya, lebih penting untuk
melakukan apa yang baik, termasuk dengan siapa ia akan membina relasi. Disisi lain ada
juga yang mengungkapkan pelaku KDP menyebarkan tuduhan bahwa pasangannya
“gampangan”. Pada kasus demikian perlu dihadapi sampai mendapat keadilan.

Ada naskah yang mengungkapkan kita bisa terkecoh dengan penampilan. Penulis
menyaksikan seorang tokoh mahasiswa yang berpenampilan alim, pandai bicara di depan
publik. Walaupun terlihat soleh, pelaku KDP ini posesif, melakukan kekerasan verbal dan
psikis. Ia menyebut pacarnya “bekas” dan dirinya sebagai suci, mengatur cara berpakaian,
mengatur dengan siapa boleh berhubungan.

Talkshow “Berani bantu berani bicara”
Obrolan santai ini diharapkan memberikan tips pencegahan dan penanganan KDP.
Nara sumber acara ini seorang ahli psikologi, seorang konselor dan seorang dokter
penyanyi. Ada beberapa penanggap termasuk tiga juara lomba menulis, penulis yang
termasuk dewan juri dan seorang “Young interfaith peacemaker”.

Beberapa catatan dari talkshow ini :

Ada dua kata kunci “kekerasan” dan “pacaran”. Bentuk kekerasan yang menyakitkan
bisa verbal (kata kata kasar, merendahkan), fisik (dipukul, ditampar, dijambak, dilukai,
ditusuk), psikis (pemaksaan, dipermalukan, penghinaan), seksual (serangan seksual,
perkosaan dan pelecehan seksual), kekerasan berbasis online (Pelecehan online, ancaman
serangan perkosaan, pornografi balas dendam), maupun ekonomi (meminta kepentingan
pribadinya dibayari). Pacaran yaitu hubungan pribadi dari dua orang dewasa yang saling
tertarik, menjajagi hubungan lebih lanjut menuju pernikahan. Relasi ini diharapkan
berlangsung dalam suasana saling menghargai dan melaksanakan “informed consent“
(memahami akibat tindakan yang dilakukan). Pada kasus KDP relasi ini berkembang negatif
karena ketidak setaraan. Bisa karena usia atau perbedaan sosial, namun didasari oleh ketidak
setaraan gender, harapan masyarakat akan peran laki laki dan perempuan.

Ditengah masyarakat patriarki yang menganggap laki laki memiliki kedudukan yang
lebih tinggi, kekerasan lebih banyak dialami oleh perempuan. Sifat maskulin laki laki (tegas,
dan kuat), diharapkan menjadi pemimpin dan perempuan yang feminin (lemah lembut
halus) menjadi pengikutnya. Terjadi konflik dalam diri remaja. Nilai yang ditanamkan
bahwa perempuan baik tidak melawan laki laki yang menjadi pemimpinnya, jadi dia akan
mengikuti saja tuntutan sang pacar. Dia tahu nilai yang berlaku di masyarakat anak
perempuan waktu menikah harus perawan, suci. Namun dia juga melihat di media sosial
perilaku pacaran para pesohor, dan menyimpulkan mereka sudah biasa “ML” (hubungan
seksual). Seringkali para remaja yang jatuh cinta ini kalah pada saat sang pacar meminta
untuk membuktikan cintanya. Mungkin mereka tidak tahu bahwa ada hak untuk menolak
tuntutan ML sebagai pembuktian cintanya.

Pada talkshow ini dipertanyakan nilai keperawanan. Dokter mengoreksi yang disebut
selaput dara itu tidak kedap menutup jalan lahir, karena darah haid masih bisa keluar.
Robekan selaput dara bisa terjadi akibat olahraga atau kecelakaan. Ahli psikologi
menyarankan para tokoh lokal agar dilibatkan dalam pembinaan remaja, supaya nasihat
nasihat pada masyarakat tidak memojokkan korban KDP. Penanggap interfaith menyatakan
perlunya kita mengangkat aspek kemanusiaan dalam relasi. Artinya perempuan dan laki laki
sama sebagai mahluk ciptaanNya, semua perlu mendapat kesempatan untuk
mengembangkan bakat dan potensinya, melakukan aktualisasi diri.

Mungkin perlu dibahas konsep rumah tangga dan pekerjaan yang selama ini berlaku,
perempuan mengurus anak dan rumah tangga, laki laki mencari nafkah. Dalam kenyataanya
di masyarakat kita cukup banyak perempuan yang juga ikut mencari nafkah bagi keluarga
namun urusan rumah tangga dan anak tetap jadi kewajibannya. Konsep ini perlu dirubah,
laki laki juga perlu bersama sama mengurus anak dan rumah tangga.

Ahli psikologi menyatakan pentingnya mengenali pasangan. Pelaku KDP bisa
menyatakan khilaf, itu mungkin kalau hanya dilakukan satu atau dua kali. Namun kalau
sudah lebih dari dua kali mungkin ia memiliki kepribadian yang sulit dirubah. Ada juga tips
untuk mengenali orang yang bisa menjadi pelaku KDP 1) sering menggunakan kekerasan
fisik 2) suka banting banting barang 3)Posesif 4) meremehkan pasangannya 5) menguntit
secara fisik maupun digital 6)Suka memeriksa akun pasangannya 7) Menjauhkan pasangan
dari teman dan keluarga 8) Sering curiga berlebihan 9) Memaksa berhubungan seks 10)
Menolak menggunakan kontrasepsi.

Apa yang bisa diupayakan untuk mengurangi kejadian KDP?
Dengan memahami dasar dari KDP adalah kesenjangan gender, perlu disebarkan
kesadaran bahwa laki laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara didepan hukum.
Undang undang Perkawinan yang sudah direvisi pada tahun 2019, menyatakan batas
perkawinan termuda adalah 19 tahun. Bila orang menikah setelah dewasa, diharapkan
keluarga yang dibentuk olah pasangan suami istri bisa menjadi keluarga sejahtera.
Pendidikan seksualitas perlu dilakukan di rumah, diajarkan kemampuan mengenal dan
mengendalikan diri, serta mendorong kemandirian. Setelah anak anak masuk sekolah
diperkuat dengan pembelajaran ilmiah tentang seksualitas di sekolah. Yang perlu digaris
bawahi adalah setiap anak, baik laki laki maupun perempuan perlu mendapatkan kesempatan
untuk maju dan penghargaan yang sama dalam kinerja yang dicapainya di sekolah.

Apa yang bisa dilakukan oleh saksi?
Setiap orang yang menjadi saksi KDP bisa membantu, dengan kesadaran korban KDP
perlu mengatasi berbagai hambatan untuk menceritakan pengalamannya. Paling penting
mendengarkan, mencoba memahami dan mengamati perkembangan korban, bila perlu bisa
membantu untuk mencari pertolongan konseling profesional. Secara populer saksi atau
“bystander “, bisa menjadi pendukung korban atau “Upstander” dengan 5D : Direct, pelaku
dengan tegas diberi umpan balik (Misalnya “membuka telepon genggam pacar itu bisa
disebut KDP”), Distract alihkan pelaku yang sedang bertengkar dengan pacarnya (misalnya
mengatakan “sebentar lagi kita hrus masuk ruang kuliah”), Delegate minta pertolongan
orang lain (misalnya minta tolong pada guru bahwa ada anak perempuan yang dipukul
pacarnya), Document buat rekaman kejadian (misalnya foto atau rekaman suara pelaku dan
korban) yang bisa digunakan korban untuk mencari keadilan. Delay, menunda tindakan
setelah kekerasan terjadi ( misalnya menjelaskan cara melaporkan kejadian dan mendukung
dengan bantuan).

*Pendiri dan Pembina “Yayasan Jaringan Relawan Independen” Bandung.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments