Kekerasan dalam Pacaran itu apa?

Kekerasan dalam pacaran adalah segala bentuk tindakan kekerasan fisik, kekerasan emosional/psikologi, kekerasan ekonomi dan kekerasan seksual dan pembatasan aktifitas yang terjadi pada saat pacaran.

Apa saja bentuk kekerasan dalam pacaran?

Beberapa tanda kekerasan dalam pacaran termasuk:

  • Memaksa melakukan hubungan seks pada waktu perempuan tidak mau.
  • Menyatakan bahwa perempuan harus mau berhubungan seks karena sudah diajak nonton/makan/jalan jalan.
  • Bersikap cemburu berlebihan termasuk terus menuduh berselingkuh
  • Bersikap sangat mengendalikan, misalnya menentukan baju apa yg harus dipakai, melarang bertemu dengan teman teman atau keluarga, atau menuntut mencek HP, email dan media sosial pasangan perempuan.
  • Terus menerus mengecek pasangan perempuan dan marah bila tidak dicek
  • Merendahkan pasangan perempuan, termasuk penampilan (Baju, makeup, rambut, berat badan) kecerdasan, kegiatan.
  • Mencoba memisahkan pasangan perempuan dari orang lain termasuk dengan menghina mereka.
  • Menyalahkan pasangan perempuan tentang perilaku kekerasannya dan membuat daftar bagaimana pasangan membuatnya melakukan kekerasan.
  • Menolak bertanggung jawab tentang tindakannya.
  • Meminta maaf dan janji untuk berubah berkali kali.
  • Memiliki sifat cepat marah, sehingga pasangan perempuan tidak tahu perilaku atau kata kata yang menjadi masalah.
  • Tidak mau diputuskan atau membuat pasangan perempuan merasa bersalah kalau meninggalkannya.
  • Mengancam untuk menelepon yang berwajib (polisi, petugas deportasi, pelayanan sosial anak) sebagai cara untuk mengontrol perilaku pasangan.
  • Melarang pasangan melakukan cara kontrasepsi, atau ke klinik untuk itu.
  • Melakukan kekerasan fisik seperti memukul, mendorong, menampar.

             Tidak ada satupun perilaku diatas yang bisa diterima. Walaupun seorang laki laki hanya melakukan beberapa, tetap saja itu adalah kekerasan. Tidak pernah bisa diterima untuk seseorang memukul anak perempuan atau atau melakukan kekejaman dengan cara apapun. Relasi yang sehat terdiri atas “trust” / kepercayaan, penghargaan, kesetaraan dan kompromi. Suatu catatan penting, kenalilah dirimu, sayangilah dirimu agar bisa menyayangi pasanganmu dengan benar.

Kekerasan dalam pacaran di Indonesia

       Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) pada tahun 2016 mengungkapkan pengalaman hidup perempuan yang mengalami kekerasan dengan usia 15 tahun keatas. Kekerasan fisik dan seksual dan dialami perempuan yang belum menikah, cukup tinggi, hampir 43 persen. Bentuk kekerasan yang dialami, kekerasan seksual yang hampir 35 persen jauh lebih tinggi bila dibandingkan kekerasan fisik yang kurang dari 20 persen. Data ini menunjukkan bahwa banyak korban kekerasan diantara perempuan yang belum menikah. Pelaku kekerasan tersebut bisa orang terdekat seperti pacar, rekan kerja, teman, tetangga atau orang asing yang tidak dikenal.

            Kekerasan dalam pacaran atau dating violence adalah tindak kekerasan terhadap pasangan yang belum terikat pernikahan meliputi kekerasan fisik, emosional, ekonomi dan pembatasan aktivitas. Kekerasan ini sering terjadi, namun kurang mendapat sorotan sehingga korban maupun pelakuya tidak menyadarinya. 

 

Kekerasan dalam pacaran, laporan tahunan Komnas perempuan 2020

               Kekerasan terhadap perempuan dalam ranah pribadi terjadi dalam berbagai bentuk. Melalui bentuk-bentuk kekerasan dalam hubungan perempuan dengan orang terdekat, dapat menggambarkan kekerasan yang terjadi pada korban. Diagram berikut menggambarkan bentuk-bentuk tersebut adalah kekerasan terhadap istri

Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan diranah KDRT (N=11.105)

Kekerasan Dalam Pacaran
Kekerasan dalam pacaran

Sumber:https://www.komnasperempuan.go.id/reads-catatan-tahunan-kekerasan-terhadap-perempuan-2020

(KTI) berkontribusi hampir 60% di ranah KDRT, kekerasan terhadap anak perempuan (KTAP) lebih dari 20%, kekerasan dalam pacaran (KDP) 16%. Disamping itu ada kekerasan yang dilakukan oleh mantan suami dan mantan pacar, kekerasan yang terjadi pada pekerja rumah tangga, dan ranah personal lainnya. CATAHU tahun 2020 terdapat catatan khusus dalam data ini, Kekerasan terhadap Anak Perempuan (KTAP) melonjak sebanyak 2.341 kasus, tahun sebelumnya sebanyak 1.417.

Berikut bentuk-bentuk kekerasan dalam pacaran:

  1. Kekerasan fisik seperti memukul, menampar, menendang, mendorong, mencengkram dengan keras pada tubuh pasangan dan serangkaian tindakan fisik yang lain.
  2. Kekerasan emosional atau psikologis seperti mengancam, memanggil dengan sebutan yang mempermalukan pasangan menjelek-jelekan dan lainnya.
  3. Kekerasan ekonomi seperti meminta pasangan untuk mencukupi segala keperluan hidupnya seperti memanfaatkan atau menguras harta pasangan.
  4. Kekerasan seksual seperti memeluk, mencium, meraba hingga memaksa untuk melakukan hubungan seksual dibawah ancaman.
  5. Kekerasan pembatasan aktivitas oleh pasangan banyak menghantui perempuan dalam berpacaran, seperti pasangan terlalu posesif, terlalu mengekang, sering menaruh curiga, selalu mengatur apapun yang dilakukan, hingga mudah marah dan suka mengancam.

Pemahaman yang terbatas mengenai diri dan relasi mengakibatkan banyak perempuan menganggap pembatasan aktivitas merupakan hal yang wajar, bahkan bentuk kepdulian dan perasaan saying dari pasangan.

Bagaimana kekerasan dalam pacaran dimulai?

Biasanya kekerasan dalam pacaran dimulai dengan kekerasan emosional dan verbal. Dia mulai membuat julukan yang buruk tentang pasangan perempuannya terus menerus mengecek dan menuntut waktu. Ini adalah cara sang pacar menguasai dan mengendalikan pasangan. Selanjutnya ada tindakan tindakan lain yang lebih serius seperti menampar, menguntit dan menggunakan cara kontrasepsi atau perlindungan terhadap penyakit menular seksual.

Kekerasan dalam pacaran bisa terjadi pada kencan pertama. Kalau seorang kencan membayar untuk acara kencan itu, tidak berarti dia bisa menuntut hubungan seks. Setiap kegiatan seksual yang dilakukan tanpa kesepakatan Bersama   adalah kekerasan seksual.

Apa yang disebut kekerasan digital?

Suatu bentuk kekerasan dengan menggunakan teknologi, khususnya sms atau media sosial. Kekerasan digital sering terjadi di kalangan anak muda tetapi bisa saja terjadi pada siapa saja yang menggunakan teknologi, seperti telepon pintar atau computer.

Yang termasuk kekerasan digital:

  • Panggilan telepon atau sms yang tidak diinginkan
  • Pelecehan dalam media sosial
  • Tekanan untuk mengirim foto telanjang atau pribadi (disebut “sexting”)
  • Menggunakan teks atau media sosial untuk ngecek, menghina, atau mengendalikan pasangannya boleh bertemu atau berteman dengan siapa saja
  • Menuntut password pasangan di media sosial atau emal.
  • Menuntut jawaban segera atas sms, email, dan telepon darinya.

Dalam suatu relasi yang sehat kedua pasangan menghormati batas batas. Kalau seorang perempuan merasa tidak nyaman, tidak perlu mengirimkan foto. Sekali kirim foto yang terbuka, seorang perempuan tidak bisa mengendalikan siapa yang akan melihat. Dia bisa kirim foto itu pada siapapun.

Kiat mencegah Kekerasan dalam Pacaran

Kiat mencegah kekerasan dalam pacaran

Kiat untuk perempuan yang belum menikah dan sedang mempersiapkan diri untuk menjalin hubungan dengan calon pasangan:

  • Mengenal calon pasangan dengan menyeluruh sebelum memulai relasi khusus.
  • Jangan terlalu cepat mengambil keputusan dan lebih bijak dalam memilih pasangan,
  • Berani mengambil sikap dengan mengatakan ‘tidak’ dan menghentikan hubungan ketika menerima tindak kekerasan,
  • Membangun komitmen sebelum memulai sebuah hubungan,
  • Memperkenalkan pasangan kepada keluarga untuk menimbulkan rasa sungkan dari pasangan terhadap keluarga,
  • Pentingnya keterlibatan peran orangtua, serta orang terdekat dalam mengawasi dan menjaga anak, keluarga, teman maupun orang yang kita kenal dari bahaya kekerasan dalam pacaran.

Mengakhiri kekerasan terhadap perempuan merupakan kunci untuk mendorong kesetaraan gender dan memungkinkan perempuan untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam kehidupan politik, ekonomi dan sosial. Perempuan merupakan penentu terciptanya generasi yang akan datang, untuk itu mari lindungi perempuan dari segala bentuk kekerasan demi menghasilkan generasi muda yang baik dan berkualitas.

Pencegahan: Kurangi faktor risiko, tingkatkan faktor pelindung

Pemberdayaan remaja melalui keluarga, teman, dll (termasuk teladan seperti guru, pelatih, mentor, dan pimpinan kelompok) untuk mengajak hidup sehat dan menerapkan relasi sehat. Penting untuk memberikan ruang, seperti di komunitas sekolah dengan tidak ada toleransi terhadap kekerasan dalam pacaran sebagai norma perilaku. Perlu ada pesan yang jelas bahwa memperlakukan orang dengan kekerasan tidak bisa diterima, dan aturan ini perlu ditegakkan untuk menjaga keamanan para siswa.

Apa yang terjadi bila anak perempuan tidak menghentikan KDP?

Tetap berada dalam relasi dengan kekerasan bisa berakibat jangka panjang terhadap kesehatan mental maupun fisik, termasuk rasa sakit menahun, depresi atau kecemasan.

Pasangan pelaku kekerasan juga bisa menekan untuk melakukan hubungan seks tanpa perindungan atau mencegah menggunakan kontrasepsi. Kadang kadang anak perempuan   berpikir bahwa kekerasan itu akan berakhir bila ia hamil. Kekerasan sebenarnya malah meningkat bila seorang gadis hamil. Anak perempuan perlu mencari informasi dan menanyakan pada ahlinya bagaimana mencegah kehamilan, bagaimana mencegah penularan penyakit menular seksual.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments