Sulitnya ekonomi keluarga, seringkali dijadikan alasan bagi para orang tua untuk menikahkan anak perempuan mereka kepada pria dewasa yang dianggap sudah mapan. Dengan harapan dapat membantu perekonomian keluarga, dengan menanggung hidup anak perempuannya. Akan tetapi, apakah faktanya apa benar terjadi?

 

Banyak anak perempuan yang dinikahkan hidupnya tidak menjadi mudah seperti yang diharapkan. Pernikahan usia anak, akan membawa dampak buruk bagi anak itu sendiri. Seperti putus sekolah. Anak perempuan yang dinikahkan akan mempunyai tuntutan sebagaimana seorang istri untuk mengurus rumah tangga. Terlebih ketika anak perempuan ini memiliki anak. Tuntutan sebagai ibu dan istri akan sulit untuk menyelesaikan sekolah. 

 

Resiko tinggi KDRT. Kekerasan dalam rumah tangga menjadi salah satu dampak yang cukup dikhawatirkan dari pernikahan usia anak. Secara psikologis anak yang belum matang akan sulit untuk mengendalikan emosi. Anak perempuan rentan sekali menjadi korban KDRT. Sementara dari pihak korban sendiri akan rentan mengalami depresi. Karena sebagai anak yang masih membutuhkan waktu untuk bermain, belajar dan mencari jati diri sudah dituntut untuk menjadi seorang istri dan anak. 

 

Tidak hanya dampak psikologis, ada dampak secara kesehatan. Organ reproduksi anak yang masih belum matang. Dipaksakan untuk berhubungan seksual, kemudian mengandung akan memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan reproduksinya. Hal ini dapat mengakibatkan resiko kematian ibu dan anak. 

 

Jadi, dengan resiko demikian apakah perlu anak perempuan menjadi jalan pintas solusi ekonomi keluarga?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *